Archive for June, 2007

behind the name

Tuesday, June 19th, 2007

iseng ajah….
dari http://www.behindthename.com

Yusuf:
From the Latin Iosephus, which was from the Greek Iosephos, which was from the Hebrew name Yosef
meaning "he will add". In the Old Testament Joseph is the eleventh son
of Jacob. Because he was the favourite of his father, his older
brothers sent him to Egypt and told their father that he had died. In
Egypt, Joseph became an advisor to the pharaoh, and was eventually
reconciled with his brothers when they came to Egypt during a famine.
This is the name of two characters in the New Testament: Joseph the
husband of Mary and Joseph of Arimathea. Also, rulers of the Holy Roman
Empire have had this name.

Tirza:
Means "favourable" in Hebrew. Tirzah is the name of one of the
daughters of Zelophehad in the Old Testament. It also occurs in the Old
Testament as a place name, the early residence of the kings of the
northern kingdom.

Binita:
From the Late Latin name Benedictus which meant "blessed".
Saint Benedict was an Italian monk who founded the Benedictines in the
6th century. This name has also been borne by 16 popes.

Esther:
Possibly means "star" in Persian. Alternatively it could be a Hebrew form of ISHTAR,
the name of a Persian goddess. The Book of Esther in the Old Testament
tells of Queen Esther, the Jewish wife of the king of Persia, who saves
many Jews from persecution.

Gisela:
Derived from the Germanic element gisel meaning "hostage" or "pledge". This is the name of a well-known ballet by Adolphe Adam.

Fuad:
Derived from Arabic fu’ad meaning "heart".

Amelia:
Latinized form of the Germanic name Amal, a short form of names beginning with the element amal meaning "work".

suatu saat nanti naik gunung saja?

Monday, June 18th, 2007

Hidup di jaman sekarang ini memang susah-susah gampang. Teknologi makin memudahkan orang melakukan banyak hal. Tetapi irama kehidupan jadi tambah cepat. Ekspektasi jadi naik, orang makin ingin dan makin dituntut untuk melakukan lebih banyak hal, juga makin ingin mencapai banyak hal. Makin banyak pilihan, makin besar gap antara pilihan yang satu dengan pilihan yang lain.

Makin tersedia pilihan, apakah mau menjadi manusia yang seperti ini atau itu. Apakah ini dibarengi dengan kesadaran diri, bahwa bagaimanapun manusia itu terbatas? Apakah ini dibarengi dengan kesadaran untuk meningkatkan kemampuan? Kalau tidak, jadinya adalah diri sendiri ini berantakan. Jadwal hidup kacau, nilai-nilai bergeser. Berikutnya akan muncul domino effect. Kalau diri sendiri kacau, bagaimana dengan organisasi ataupun komunitas yang kita-kita ini ada di dalamnya? Belum lagi kalau orang-orang ini adalah pemimpin atau orang yang berpengaruh di dalamnya.

Kadang semua ini membingungkan, kalau ingin menghindari secara tegas, bahwa semua ini menakutkan. Bagaimana tidak, kesimpulan untuk semua ini, adalah makin sulit mempersiapkan manusia menghadapi kehidupannya. Dulu pendidikan S1, semestinya mempersiapkan orang untuk masuk ke dunia kerja. Sekarang, kalangan pendidikan menyatakan, mereka hanya membekali dari sisi ‘akademis’. Setelah lulus masih dibutuhkan 1-2 tahun untuk siap menjalankan profesi yang mereka pilih.

Bagaimana nanti? Jangan-jangan makin bergeser lagi. Mungkin tidak, suatu waktu nanti akan digeser secara ekstrim? Bayangkan bila pendidikan formal ternyata tidak berguna lagi. Jadi silakan hadapi hidup kamu dengan terjun langsung ke dalamnya. Nasib kamu akan ditentukan oleh faktor keberuntungan saja. Jika kebetulan komunitas kamu mendukung, juga jika komunitas kamu tepat bagi dirimu, kamu akan jadi manusia yang utuh. Jika tidak, ya mohon maaf. Jadi silakan mengikuti apa yang dinamakan seleksi alam. Mengapa tidak? Informasi, pengetahuan bisa didapatkan di mana saja,  tentunya bagi yang memiliki akses. Pembentukan sikap, etika, moral sepertinya harus melalui pengalaman, sentuhan personal, alias sangat sedikit peran pengetahuan di sini.

Suatu waktu sepertinya ini akan terjadi, semoga saja masih dalam waktu yang sangat lama.

Sepertinya, nanti beberapa bagian dari masyarakat akan muak, kemudian mereka menyingkir dari peradaban terkini. Ada yang akan memilih moderat alias tengah-tengah saja, ada juga yang akan memilih untuk ekstrim, naik gunung.. persis seperti di cerita-cerita silat saja. Sepertinya menarik juga kehidupan seperti itu. Ada di jauh entah di mana, masih mengakses informasi-informasi yang diperlukan, tetapi hidup lebih tenang. Bila memang dibutuhkan, sesekali ya terpaksalah turun gunung. Tetapi selebihnya, hidup lebih dekat dengan diri sendiri. Juga tentu dengan orang-orang yang dikasihi, the inner circle.

Yah, ada sedikit paradoks di sini, karena kalau mau seperti ini, pastilah pengetahuan, kemampuan dan pengalaman sudah jauh di atas rata-rata. Persis seperti pendekar di cerita silat tadi. Kalau sudah naik gunung, sebelumnya sudah berdarah-darah dulu, sudah menghadapi banyak pahit daripada manisnya dunia persilatan.

Hehehe… tiba-tiba sudah jam 06:17 nih, di Cinere sedang turun hujan, time to go.

Snapshot pagi-pagi

Monday, June 18th, 2007

Jam 4:44 waktu mulai tulis ini. Sial dong? Hehehe..
Iseng aja nih, bangun pagi-pagi buat bikin susunan panitia, buat coba menulis apa visi misi dan pemikiran untuk satu komunitas di Gereja.

Cek email, eh, ada inquiry. Ya jelaslah di-follow up. Sampai sekarang jadinya ada 3 inquiry plus 1 active process. Hayo… mestinya sih santai-santai saja dong? Meskipun gitu, rasanya gampang-gampang susah. Yg active process ini sepertinya sudah game over.

Yg lebih sukar, gimana align personal goal dengan opportunity di luar sana. Ini sih masalah klasik.

Snapshot saja nih.

brainbench lagih

Friday, June 15th, 2007

Sekarang ini lagi pengin belajar-belajar lagi hal-hal teknis. Selain karena iseng, juga sepertinya perlu buat proyek berikutnya. Selain karena perlu, juga karena ada waktu. Selain karena ada waktu, juga biar otak diajak belajar lagi.

Terus, iseng aja… pengin lihat materi di brainbench. Eh, iseng lagi karena ada yg gratis, Java Fundamental dan SQA. Nah… dengan modal TIIJ dari temanku (untuk Java, pastilah perlu open book gua ini…  untuk SQA, cukup buka-buka website untuk terms-terms yg belum pernah denger) jadilah:
http://www.brainbench.com/transcript.jsp?pid=1200496

Hehehe…

Dari dulu itu pasti selalu ada debat, apakah PM harus bisa teknis. Ya nggak perlu sih sebetulnya. Tetapi perlu tahu how to nya untuk menyelesaikan suatu kerjaan, kalo aku sih, pengin iseng aja nyobain. Paling nggak buat proyek yg sangat kecil, mestinya bisa kerjain sendiri.

Abis ini pengin nyobain Red Hat, kalo perlu Oracle sekalian. Entah sih, kesampean apa nggak… soalnya kan nggak gampang juga buat belajar banyak dalam waktu singkat.. Ditambah lagi harus belajar sendiri. Ditambah lagi sekarang ini nggak ada fasilitas di kantor, tidak sebebas dulu lah. Mau coba-coba di notebook, gimana caranya… lha buat startup saja lagu pembukaan windows aja tersendat-sendat. Hehehe… Minta ganti, nggak kunjung jelas. Kelamaan prosesnya, rasanya udah terlanjur jadi basi deeeeeeh…

Jadi inget jaman-jaman dulu.. nyoba ini dan itu, maksa bisa demi proyek… yah… dah lewat deeeeeh…

Udah ah… tiba-tiba jadi capek!

Matius 25:29

Thursday, June 14th, 2007

Karena setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi,
sehingga ia berkelimpahan. Tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun
juga yang ada padanya akan diambil dari padanya.

Well… ya begitulah… ada prinsip kapitalisme di sini :-)

barang-barang mahal

Wednesday, June 13th, 2007

Radical Project Management USD 36.44 belum dengan shipping. Tapi ternyata ada eBook-nya. Yah, asal pinter-pinter googling nih.

ISO / IEC 12207 sekitar 150-160 CHF, kira-kira 150 USD. Yang ini jelas nggak akan ada yang berani taruh eBooknya.

PMP preparation 5th ed, Rita Mulcahy USD 56.07 belum dengan ongkos kirim. Yang ini sukar dapet eBook-nya. Huaaaa…

Online PMP certification preparation course, sekitar 400 dollar juga. Geblek.

40 PDU dari REP, bakal habis sekitar 4-5 juta IDR. Test sertifikasinya sekitar 4-5 juta IDR juga. Total bisa nyampe 10 juta IDR.

Huaaaaaaa… Ya wajar aja lah kalo PMP certified itu gajinya ruarrrrrr biasa tinggi (buat ukuran eloe-eloe sih, buat aku sih wajar aja segitu :P certified SA juga bisa segitu kok… kalau mau yg murah, beli otak goreng di restoran padang aja.. weks!)