kerja bo’!
Beberapa hal membuatku berpikir lagi akhir-akhir ini mengenai kenapa sih kita bekerja? Ketemu temen-temen yang masih idealis, ‘cukup berbeda’ dengan orang-orang yang lebih sering aku temui sekarang.
Bekerja buat apa sih? Mestinya terus ciptakan nilai, kontribusi ke luar dari diri kita. Bayaran itu semestinya lebih kecil daripada kontribusi kita ke luar. Tetapi masyarakat di sekitar kita kadang bukan suatu lingkungan yang mudah. Ada orang-orang yang cepet kaya dengan cara yang salah. Itu contoh yang gampang dan ekstrim, tapi nggak cuma itu. Ada juga kan, orang-orang yang dapat posisinya secara mudah? Lha, lalu memangnya kenapa?
Kadang jadi ada konflik-konflik dari orang-orang yang karbitan ini. Sukar juga menjadi orang yang akomodatif di situasi seperti ini. Penginnya sih ya terima-terima saja, itu nasib mujurnya mereka kan? Tetapi kalau sampai mereka ini memutuskan secara kurang bijaksana hal-hal yang pengaruh ke diri kita?
Bayangkan kalau ada keputusan yang kurang bijaksana dari orang yang kurang berpengalaman, kadang jadilah orang-orang lain itu pembersih sampah. Atau sedikit di atas pembersih sampah, jadilah bekerja tidak nyaman, sebagai "fire fighter".
Kadang jadi stress sendiri… kadang jadinya menyerah juga nih. Yang kita lakukan kan sebatas bicara, jelaskan pemikiran kita. Selesai. Kalau mereka itu tidak mengerti juga, selesai dong tugas kita. Ini sikap untuk menolong kalau kita di posisi sebagai orang ketiga. Pasti deh, pernah lihat orang / teman kita dinilai kurang baik oleh boss kita. Padahal kita yakin sekali situasi yang sebenarnya terjadi bukan karena yang bersangkutan. Kadang malah sama sekali di luar kendali yang bersangkutan.
Kalau sebagai orang kedua? Setelah bicara dan mentah, ya pasang badan sajalah. Apapun yang kita lakukan toh akan percuma. Berharap saja, suatu waktu nanti orang-orang ini akan tambah bijaksana. Tentunya sambil merenung lagi, apa sih yang paling mendasar dari ‘bekerja’ itu? Mungkin saja memang ini semua akan jadi bagian yang tak terpisahkan dari ‘bekerja’, suatu kenyataan yang umum, seperti best practice yang akan jadi common practice gitu… atau mungkin ada lingkungan lain yang lebih pas untuk kita?
Kalau sebagai orang pertama? Bertanggung jawab penuh lah pada keputusan kita. Bisa jadi mengerti situasi secara menyeluruh itu memang sukar. Tetapi kalau memang itu perlu, lakukan dulu pengumpulan informasi dari banyak orang. Bentuk sikap dan pendapat yang benar dulu sebelum memberikan penilaian, sebelum mengambil keputusan.
Hmm… pernah nggak sih aku terima posisi karbitan? Pernah euy… memang setengah mati mengejar gapnya… Duh, jadi tambah sedih euy…