dulu pelayanan di mana?

Kadang aku bingung, sukar membedakan antara pelayanan dengan kerja sehari-hari. Lucu juga, kadang di Gereja ditanya pengalaman kamu dulu pelayanan di mana? Agak terasa aneh aja buat aku. Memang untuk menentukan seseorang bisa dipercaya melakukan pelayanan, perlu tahu pengalaman "kerja" sebelumnya gituh? Seperti dunia kerja aja.

Tetapi memang masa kecilku terbentuk di Sangkrah. Sebuah Gereja (GKI) di Solo sana. Sangkrah ini sepertinya terkenal karena kemampuan berorganisasinya. Seperti layaknya GKI, banyak pemikiran-pemikiran yang sangat rasional, definitif. Gereja lain jadinya bilang "Gereja Kurang Iman".

Salah satu yang aku masih ingat, Gereja itu adalah organisasi sekaligus bukan organisasi. Karena yang namanya organisasi itu dibentuk manusia, sedangkan Gereja itu dibentuk oleh Tuhan, tetapi juga ada organisasinya yang dibentuk oleh manusia. Nah lo… definisinya saja sudah cukup pusing. Apalagi waktu itu kan masih masa-masa remaja.

Di Sangkrah waktu itu anak usia remaja, kelas 1 SMP sudah dipercaya buat menjalankan kepengurusan. Dulu namanya KPSKR, Komisi Pemuda Seksi Khusus Remaja. Kenapa mesti Seksi Khusus? Karena sebetulnya yang boleh duduk di komisi itu Jemaat. Jemaat itu harus sudah dibabptis. Baptis itu di usia minimum 16 (kalau nggak salah). Padahal kan anak-anak remaja itu masih di bawah usia itu. Jadilah dibentuk Seksi Khusus. Seksi tapi diperlakukan sebagai Komisi.

Kalau ingat waktu itu, seru juga. Usia-usia SMP-SMA begitu, bacaannya Tager Talak, rapat analisa situasi, pembentukan program, bikin anggaran, bikin kalender kerja. Terus ada PRKPMP, itu rapat Pengurus Remaja Komisi Pemuda dan Majelis Pendamping. Kadang rapat mengambil tempat di Tawang Mangu, menginap. Dan pembahasan bisa sampai tengah malam karena memang beberapa hal sukar diputuskan.

Pokoknya seru banget. Apalagi kegiatannya lengkap. Mulai dari Persekutuan Minggu, Persekutuan Doa, Camping, Bible Camp, Leadership Training Center, kunjungan ke panti asuhan, ke panti jompo, ke anak cacat mental, ke rumah sakit, anjang karya / anjang sana (sekarang gua dengar istilahnya "live in"), plus event-event tertentu. Natal, Paskah, pertandingan persahabatan, dan lain sebagainya.

Lengkap sekali kegiatannya. Juga role-role yang dibutuhkan untuk melaksanakan kegiatan itu. Selama 6 tahun berada di lingkungan seperti itu, pasti akan terbentuk dengan sendirinya.

Belum lagi kalau ingat waktu itu, menaikkan jumlah anggota persekutuan dan jumlah kehadiran secara signifikan. Dari 120 jadi 200, dari 80 jadi 150.

Di satu sisi pengin mengakui semua yang pernah kita capai, di sisi lain
ada yang bicara itu semua bukan pencapaian kita sebagai manusia. Tidak boleh sombong sama sekali.

Pencapaian-pencapaian masa lalu ini, semuanya kan tangan Tuhan yang bekerja? Bukan pekerjaan manusia. Atau bagaimana? Seperti konsep GKI mengenai Gereja sebagai organisasi tadi, ada dualisme di sini juga yah? Jadi kalau kita mau masuk dalam pelayanan yang baru, barangkali kita perlu siapkan cv kita.

Bingung dah pokoknya!

Leave a Reply