circling up or down?
Di dunia ini ada yang namanya resiprokal (reciprocal). Bahasa resmi yang lain adalah lingkaran setan. Kalau orang suka dengan orang lain, dan dibalas suka, maka bertambahlah suka keduanya. Demikian juga dengan benci. Kalau yang satu mulai benci, dibalas benci, maka bertambah kuatlah keduanya saling benci.
Ajaibnya, lingkaran seperti ini bisa diputus. Tentu butuh usaha, butuh energi. Besarnya tergantung kuatnya lingkaran itu.
Tambah ajaib lagi, lingkaran setan ini berlaku di banyak hal. Nggak cuma perasaan, tapi juga manajemen dan bisnis. Mungkin karena manusia itu nggak pernah bisa lepas dari aspek psikologis. Entah juga penyebabnya apa, bisa jadi topik penelitian temen-temen gua yang Phd
Tapi contoh praktisnya, banyak orang yang berbisnis dan jadi kaya raya dari modal kecil sekali. Bahkan mulai dari kuli, buruh bangunan, buruh industri. Mereka memutarkan apa yang ‘lewat’ di sisi mereka membentuk spiral yang membesar. Modal terus bertambah, skala terus meningkat. Permasalahan baru di tiap lingkaran dihadapi dengan bijak serta dipilih-pilih mana yang memang relevan di tingkatan sekarang, mana yang nanti saja diselesaikan. Jadinya… circling up and up and up…. yang sebetulnya jadi tak terbatas.
Spiraling down juga ada, misalnya begitu sang manajer tidak lagi melihat anak buahnya bisa bekerja dengan baik. Kemudian sang manajer terbawa capek atau malas untuk memberikan perhatian yang cukup. Baginya harusnya dengan teguran saja terus semuanya beres. Kalau sudah begini, anak buahnya pun jadi tambah malas bekerja. Tidak termotivasi dengan benar. Tahun depan, saat ada penilaian performance, si anak buah jadi makin nggak suka karena disodorkan ke mukanya penilaian yang jelek. Menurutnya, pak manajer yang nggak bisa kasih arahan yang jelas. Performance nya makin turun, bekerja makin asal-asalan. Pak manajer pun jadi makin kencang, makin pelit untuk menurunkan anggaran di bagian yang dinilai tidak produktif. Spiralling down. Tanpa batas juga.
Kalau sudah terjebak seperti ini, ya silakan memutuskan saja. Apa memang lebih baik keluar dari lingkaran ini dengan cara keluar dari situasinya? Atau ada salah satu pihak yang sebetulnya bisa memberikan usaha lebih, maju dari garis batas psikologisnya, memberikan usaha untuk memutar balik arah spiral yang sedang terjadi?
If you a good leader, you know which option comes first.