bicara sama tembok

Sebetulnya abis capek secara emosional. Kadang gap yang terlalu jauh buat menerangkan sesuatu itu bikin capek. Bayangkan saja kalau harus bicara sama tembok. Mau cara halus nggak ngerti, mau cara kasar juga nggak ngerti. Bicara sebentar nggak ngefek, bicara lama sama saja. Cara sederhana nggak masuk, ilustrasi yang komplit juga nggak bisa.

Manusia memang aneh. Bisa saja sedikit "kepentingan yang diandaikan" merusak semuanya. Bisa saja sebetulnya aku yang sedang jadi tembok. Tapi ya akhirnya: peduli amat.

Kalau memang sudah nggak asyik ya berhenti saja :-)

2 Responses to “bicara sama tembok”

  1. Anggun Says:

    Bicaralah sama diri kau sendiri itu Cup, mungkin pikiranmu pun bisa jadi tembok, kadang otak kanan nggak nangkep maunya otak kiri, klo berharap orang lain mau ngerti, itu pekerjaan para nabi…hehehe, makanya nabi-nabi itu stress bener, Tuhan juga punya masalah yang sama = bicara sama tembok, berabad-abad blom selesai, klo sudah nggak asyik ya dibikin kiamat aja, trus pilih2 siapa masuk surga, siapa neraka. Bagaimana coba klo manusia pada protes karena Tuhan telah gagal membuat mereka mengerti?

  2. Yusuf Says:

    Otak kanan nggak ngerti otak kiri, ngerti deh… sebagai desainer sering itu yang dinamakan black box :-)
    Kalau soal Tuhan dan manusia, wah, belum pernah terpikir. Tapi ya setuju juga, karena prinsipnya kalau udah nggak asyik, ya bubarin aja… hiii serem…

Leave a Reply