common sense of competing
Lagi bad mood. Capek. Mikirin kerjaan nggak akan pernah selesai. Padahal simpel, di mana-mana yang berlaku adalah ‘common sense’. Hanya, memang tidak semua orang punya sense-nya. Common sense of business, common sense of leadership, common sense of management, dan common sense entah apa lagi.
Nggak semua orang bisa reflektif. Nggak semua orang bisa communicate fluently. Nggak semua orang bisa berpikir analitik. Paling nyebelin kalau orang-orang itu diposisikan di level atas. Tuntutan ke orang-orang itu kan jadi tinggi. Terus, malah jadi showstopper. Yah… pesan sponsor: sebelum dituduh macam-macam, nulis ini nggak ada hubungannya dengan kerjaanku sekarang. Cuma pengin nulis apa yang berlaku umum.
Salah satu common sense of business nih..
Jual Audi dengan harga Kijang, pasti laku lah. Tapi yang nanggung rugi yang jual. Tapi (tapi di atas tapi = tapi kuadrat) juga nggak ada salahnya kalau memang sedang berusaha rebut pasar. Kalau mau diperhatikan, kan ada praktiknya di luar sana. Tentu saja tidak bisa secara eksplisit diberitakan dan dibuka begitu saja ke umum. Praktik jualan di bawah harga produksi, pasti ada di mana-mana. Biasanya yang melakukan itu ya yang berusaha rebut market share. Sementara penguasa market share (market leader) biasanya ‘cukup’ berusaha meredam dengan berikan diferensiasi produk yang jelas, atau ciptakan produk sejenis untuk jadi buffer penahan saja di kelas yang lebih rendah.
Nggak jelas yah? Coba saja lihat telekomunikasi selular, airlines, bahkan mobil. Masih belum jelas juga? Yaelah… pikirin sendiri kalau gitu.
Terus, so what coba? Semua bisnis itu punya peluang untuk berkembang terus. Nggak masalah di level mana sekarang sedang berada. Nah, sekarang kan tinggal bagaimana mengenali diri sendiri.
Kadang yang menyebalkan itu orang-orang yang diharapkan bisa memimpin, tapi panik sendiri. Aku berani bilang bahwa orang-orang ini tidak kenal situasi nya sendiri. Bisa jadi level bisnisnya sudah tidak di situ, tetapi karena kompetitor pasang harga yang murah sekali, jadi bingung. Panik.
Nah, lebih jelas kan? Coba lihat deh market leader bereaksi terhadap aksi-aksi market follower. Value offering apa yang diberikan market follower (atau lebih tepat lagi: market challenger), ya diikuti. Bahkan kalau value offeringnya adalah harga yang murah. Ikuti saja, tapi tidak sepenuhnya. Biasanya tetap lebih mahal kok, selain produk-produk untuk kelas atas pun masih dipertahankan. Terus, seringkali juga, seakan-akan cuek saja, kembangkan fitur-fitur baru. Fitur-fitur ini pasti fitur yang sukar dipenuhi oleh market challenger.
Bukannya begini ini lah common sense of business? Sayangnya, kenyataannya, di Indonesia ini (atau mungkin di lingkunganku). Banyak orang yang belum bisa terapkan hal simpel seperti ini. Begitu ada kompetitor punya harga lebih murah, pasti sudah panik nggak karuan. Pede saja kenapa? Bisa jadi mereka sedang jual Audi dengan harga Kijang. Bisa juga memang mereka bisa tekan biaya produksinya jauh lebih rendah daripada kita. So what? Pede aja dengan perhitungan sendiri. Pede saja dengan value offering yang benar-benar bisa dihasilkan, yang jadi ciri khas diri sendiri.
Another common sense, lebih rendah atau lebih mahal itu kan relatif. Apalagi buat mereka yang bisnisnya sedang di level tengah. Ada kompetitor yang lebih kecil, ada kompetitor yang lebih besar. Kalau kompetitor lebih kecil bisa berikan biaya yang lebih rendah, ya tenang aja. Bukankah artinya biaya kitapun lebih rendah dari kompetitor yang lebih tinggi? Sementara terhadap kompetitor yang lebih kecil pasti ada value offering yang lebih bagus. Entah itu kualitas, kelengkapan ‘mesin produksi’, pengalaman, atau apa. Tinggal prediksi saja market growth ke arah mana. Hajar ke dua arah atau salah satu saja
Gitu lah… sementara ini tulis-tulis aja, tanpa bisa benar-benar jelas. Sementara masih pegang prinsip: "selalu membela yang bayar", belum ada yang bayar gua buat jadi konsultan kompetisi bisnis.
Hehehe…. dulu pernah sih… di beberapa tempat kerja yang dulu lebih kerasa kompetisinya. Sempet jadi orang lapangan, mempertahankan klien dari daya tarik ‘temen’ dari vendor lain. Sempet mikirin strategi juga buat rebut pasar kompetitor yang sudah lebih besar. Asyik-asyik aja. Lebih asyik kalau kerja di industri yang level kompetisinya tinggi, pasti gampang buat pindah. Lha bapak direksi pun (yang ngomongnya pake "kembali ke jalan yang benar") bisa pindah ke kompetitor
Dah dulu deh… for now, let these thoughts be reserved. Sedikit mengurangi bete aja.