Archive for March, 2006

common sense of competing

Friday, March 31st, 2006

Lagi bad mood. Capek. Mikirin kerjaan nggak akan pernah selesai. Padahal simpel, di mana-mana yang berlaku adalah ‘common sense’. Hanya, memang tidak semua orang punya sense-nya. Common sense of business, common sense of leadership, common sense of management, dan common sense entah apa lagi.

Nggak semua orang bisa reflektif. Nggak semua orang bisa communicate fluently. Nggak semua orang bisa berpikir analitik. Paling nyebelin kalau orang-orang itu diposisikan di level atas. Tuntutan ke orang-orang itu kan jadi tinggi. Terus, malah jadi showstopper. Yah… pesan sponsor: sebelum dituduh macam-macam, nulis ini nggak ada hubungannya dengan kerjaanku sekarang. Cuma pengin nulis apa yang berlaku umum.

Salah satu common sense of business nih..

Jual Audi dengan harga Kijang, pasti laku lah. Tapi yang nanggung rugi yang jual. Tapi (tapi di atas tapi = tapi kuadrat) juga nggak ada salahnya kalau memang sedang berusaha rebut pasar. Kalau mau diperhatikan, kan ada praktiknya di luar sana. Tentu saja tidak bisa secara eksplisit diberitakan dan dibuka begitu saja ke umum. Praktik jualan di bawah harga produksi, pasti ada di mana-mana. Biasanya yang melakukan itu ya yang berusaha rebut market share. Sementara penguasa market share (market leader) biasanya ‘cukup’ berusaha meredam dengan berikan diferensiasi produk yang jelas, atau ciptakan produk sejenis untuk jadi buffer penahan saja di kelas yang lebih rendah.

Nggak jelas yah? Coba saja lihat telekomunikasi selular, airlines, bahkan mobil. Masih belum jelas juga? Yaelah… pikirin sendiri kalau gitu.

Terus, so what coba? Semua bisnis itu punya peluang untuk berkembang terus. Nggak masalah di level mana sekarang sedang berada. Nah, sekarang kan tinggal bagaimana mengenali diri sendiri.

Kadang yang menyebalkan itu orang-orang yang diharapkan bisa memimpin, tapi panik sendiri. Aku berani bilang bahwa orang-orang ini tidak kenal situasi nya sendiri. Bisa jadi level bisnisnya sudah tidak di situ, tetapi karena kompetitor pasang harga yang murah sekali, jadi bingung. Panik.

Nah, lebih jelas kan? Coba lihat deh market leader bereaksi terhadap aksi-aksi market follower. Value offering apa yang diberikan market follower (atau lebih tepat lagi: market challenger), ya diikuti. Bahkan kalau value offeringnya adalah harga yang murah. Ikuti saja, tapi tidak sepenuhnya. Biasanya tetap lebih mahal kok, selain produk-produk untuk kelas atas pun masih dipertahankan. Terus, seringkali juga, seakan-akan cuek saja, kembangkan fitur-fitur baru. Fitur-fitur ini pasti fitur yang sukar dipenuhi oleh market challenger.

Bukannya begini ini lah common sense of business? Sayangnya, kenyataannya, di Indonesia ini (atau mungkin di lingkunganku). Banyak orang yang belum bisa terapkan hal simpel seperti ini. Begitu ada kompetitor punya harga lebih murah, pasti sudah panik nggak karuan. Pede saja kenapa? Bisa jadi mereka sedang jual Audi dengan harga Kijang. Bisa juga memang mereka bisa tekan biaya produksinya jauh lebih rendah daripada kita. So what? Pede aja dengan perhitungan sendiri. Pede saja dengan value offering yang benar-benar bisa dihasilkan, yang jadi ciri khas diri sendiri.

Another common sense, lebih rendah atau lebih mahal itu kan relatif. Apalagi buat mereka yang bisnisnya sedang di level tengah. Ada kompetitor yang lebih kecil, ada kompetitor yang lebih besar. Kalau kompetitor lebih kecil bisa berikan biaya yang lebih rendah, ya tenang aja. Bukankah artinya biaya kitapun lebih rendah dari kompetitor yang lebih tinggi? Sementara terhadap kompetitor yang lebih kecil pasti ada value offering yang lebih bagus. Entah itu kualitas, kelengkapan ‘mesin produksi’, pengalaman, atau apa. Tinggal prediksi saja market growth ke arah mana. Hajar ke dua arah atau salah satu saja :-)

Gitu lah… sementara ini tulis-tulis aja, tanpa bisa benar-benar jelas. Sementara masih pegang prinsip: "selalu membela yang bayar", belum ada yang bayar gua buat jadi konsultan kompetisi bisnis.

Hehehe…. dulu pernah sih… di beberapa tempat kerja yang dulu lebih kerasa kompetisinya. Sempet jadi orang lapangan, mempertahankan klien dari daya tarik ‘temen’ dari vendor lain. Sempet mikirin strategi juga buat rebut pasar kompetitor yang sudah lebih besar. Asyik-asyik aja. Lebih asyik kalau kerja di industri yang level kompetisinya tinggi, pasti gampang buat pindah. Lha bapak direksi pun (yang ngomongnya pake "kembali ke jalan yang benar") bisa pindah ke kompetitor :-)

Dah dulu deh… for now, let these thoughts be reserved. Sedikit mengurangi bete aja.

alone

Tuesday, March 28th, 2006

Thinking about the issues. Skill, competency, methodology. Focus area. Rightsizing. Prioritization. Utilization. Availability. Leverage. Exploit. Risk. Business value. Project Management.

Impressive customer base. Measurement. Estimation.

Bleeding projects. So-so projects. Good projects. Excellent projects.

Outsourcing. Outsourced.

Bumpy project. Hot leads. Revival. On going. Initiation.

Sometimes they left me working alone :-(

think think think

Monday, March 27th, 2006

Lagi di warnet super cepat deket kantor. Wait, why should we add "super" in front of "cepat"? Why can’t we just say "cepat"?

Never mind. It’ really fast, anyway.

Just bored from my thoughts, every working hour of a knowledge worker is torture of mind. Think! Think! Think! Communicate and learn from others. Then, think! Think! Again and again. Then write something. Then think again. Read and learn. Comprehend. Analyze. Decide. Design. Define. Elaborate. Simplify. Create models. Collect information. Decide. Argue. Persuade. Strategize. Trick or treat. Discuss. Research.

Argh! Does it really matter?

law of project management…

Monday, March 20th, 2006

Lagi hectic. Tapi kalau hectic, malah kepikiran iseng nulis di friendster atau baca-baca email milis nggak jelas. Kenyataannya sih begitu. Fakta. Mungkin ini bukti parkinson’s law.

Ngomong-ngomong soal law, kepikir juga bikin ten laws of project management.

Always appear busy, trust no one, kick the ball don’t hold it…. hmmm… apa lagi yah? Pokoknya yang ngawur-ngawur semua tuh. Intinya becandaan-nya para PM, kalau dikumpulin bisa jadi buku yang seru.

Duh, apa lagi yah? Kok lupa semua… entar deh, ditambahin di posting ini kalau keinget.

Tambahin.. Hukum yang paling utama, malah lupa: selalu membela yang bayar. Inggrisnya apa yah, entar dicari deh, nggak asyik kalau diterjemahkan kata per kata. Terus, sudah selesai tinggal yang belon. Ini juga susah dicari padanan yang pas buat Inggrisnya.

Dah, kalau keinget tambahkan lagi.

Nambah lagi: nggak ngerti nggak papa yang penting gua ganteng.

third offering

Thursday, March 16th, 2006

yet another offering came.

valid or not, i don’t know. because i still don’t care, up untill now.

guys, please wait untill i have a very strong reason why i have to move :-)

nggak makna lagih

Tuesday, March 14th, 2006

kata orang, bisnis dan manajemen itu teori doang.

ada benernya sih, segala hal itu kan nggak kelihatan.

ah sudahlah… mikirin jadwal biliar dan kencan dulu ajah!

opportunity

Tuesday, March 14th, 2006

Got another job offering.

Well…. unfortunately I am not available right now. However, please keep in touch :-)

persistent

Tuesday, March 14th, 2006

Hangat-hangat tahi ayam <– –> persistent.

Gitu lhooooo….

hangat-hangat

Monday, March 13th, 2006

Hangat-hangat tahi ayam.

Hm… anak-anak sekarang tahu gituh, artinya apa? Anak sekarang pernah nggak yah pegang tahi ayam? Rasanya jarang deh, apalagi tahi ayam yang masih hangat.

Anak sekarang kan maenannya sudah canggih.

Ayam juga sudah nggak banyak berkeliaran di kota-kota.

KFC lebih populer daripada ayamnya sendiri. Nggak percaya? Coba bayangkan ayam, lalu bayangkan KFC. Pasti lebih mudah muncul simbol KFC daripada sosok ayam hidup.

Jadi inget waktu kecil. Maen basket di lapangan, lalu deket lapangan itu ada kalkun-kalkun berkeliaran. Sekali-kali bola basketnya kena tahi… lalu "Ow Ow"… ada aja deh korban yang mencari teman untuk ikut merasakan jadi korban. Hehehehe..

Yah, aku sendiri tidak ingat sebetulnya pernah nggak pegang tahi ayam. Tapi kalau tahi kalkun sih jelas pernah. Lalu kenapa coba, kenapa tidak disebut hangat-hangat tahi kalkun? Sekedar kalah populer gitu? Kasihan kalkun-kalkun itu. Mereka kan tidak kalah hebat dengan ayam? Kasihan bener… kalaupun mereka bisa naik peringkat popularitasnya, masih kalah populer dengan KFC.

Ah, sudahlah.

iklan

Monday, March 13th, 2006

Kemarin ada iklan di Kompas, dari perusahaan ’sejenis’ dengan perusahaanku sekarang. Sistem perhitungan di sebuah MLM itu menggunakan jasa dari perusahaan itu. Terus, url website-nya dicantumkan. Padahal website itu didesain oleh perusahaanku.

Yah…. bisa jadi orang-orang nyangka website itu didesain oleh perusahaan ’sejenis’ tadi. Tapi yah, untung apa rugi sih kalau seperti ini? Mendingan tunggu saja kali yah? Siapa tahu respons orang kurang bagus, misalnya menganggap desain website itu kurang pas. Aku sendiri menilai desainnya biasa aja kok. Nggak bagus-bagus amat. Biarin aja orang salah mengira yah?

Duh, nggak enaknya nulis di blog. Mesti pakai rahasia-rahasiaan. Hehehe…