abis nonton soe hok gie
aneh, kok mengingatkan aku pada temenku dulu waktu kuliah. padahal nggak mungkin banget. yg maen jadi soe hok gie kan nicholas saputra? masak nicholas saputra kayak dia?
filmnya sendiri cukup bagus secara visual. tapi kalau mau cari sesuatu yang lebih dalam, kayaknya nggak cukup. jiwa pemberontak nggak muncul. jiwa idealis juga nggak terasa. aku merasa sih aku punya sedikit hal-hal seperti itu, jadi rasanya sih ‘kegatalan’ seorang idealis tidak keluar. orang-orang seperti soe hok gie, menurutku sih penuh dengan pemikiran-pemikiran yang mengganggu dia sendiri. idealis itu sukar hidup di tengah dunia yang realis. selalu gatal lihat sesuatu yang tidak pada tempatnya. kalau perlu mati ya mati saja daripada tidak bisa melakukan apa-apa. meskipun resikonya dipukulin, diteror, itu masih lebih baik daripada terpendam.
rasanya aku punya hal-hal yang sama. untungnya (atau sayangnya) aku tidak ter-ekspos ke hal-hal seperti soe hok gie. aku tidak hidup di situasi yang sama dengan dia. dulu pun waktu kuliah, aku sudah ragu dengan segala macam gerakan kampus. pasti ada tumpangannya. kebenaran begitu sulit untuk ditemukan. jadi inget juga, di kampus dulu ada aksi demo, bakar kartu tanda mahasiswa. pada jaman sekarang, rasanya itu konyol. ada cara-cara yang lebih baik. nekad dan keras kepala, kemudian melakukan hal yang ekstrim belum tentu menjadi cara yang tepat. bisa jadi malah itu hanya semacam ikut-ikutan kulitnya saja. di dalamnya, kualitas pemikiran, perjuangan yang memang punya resiko tinggi belum tentu sama. bisa jadi berbeda jauh.
dendam yang membatu. dendam pada ketidakadilan. harga diri yang tinggi. pemahaman egosentris. ego bahwa diri ini adalah bagian dari perjuangan sebuah kebenaran. setahuku hal-hal ini jadi kekuatan yang sangat dahsyat buat orang-orang tertentu. dan pada saat benar-benar berada di lapangan.. saat aksi dilakukan.. semua hati, jiwa, pikiran, tubuh, terfokus pada satu hal saja. perjuangan mewujudkan idealisme.
ketulusan hati yang naif: biarkan aku mati demi tujuanku.
untungnya (atau sayangnya) aku tidak perlu mati demi tujuanku. aku tidak terekspos pada tujuanku.