Archive for May, 2005

underperformer

Friday, May 13th, 2005

How to Motivate an Under Performer
By Michael Angelo Caruso
(published in “Office Pro,” newsletter for the International Association of Administrative Professionals, Kansas City, Missouri)

Offering reward/consequence proposals are a terrific way to get under performers to
step up to the plate. Giving people a choice between reward and negative consequence
allows them to make decisions that benefit everyone. Here are 5 Cool Ideas for
motivating an under performer.
1. Use “I” statements to establish an undeniable agenda.
“I have a problem” and “I’m uncomfortable” are examples of “I” statements. “I”
statements invite responses like “What is it?” and “How can I help?” On the other hand,
“you” statements like “You have a problem” can trigger anger and aggression.
2. Documentation is your friend.
When setting up a reward/consequence scenario, confront the under performer by
referencing documentation such as a report or an official study. Documentation will
strengthen your case and help the under performer understand that the issue is not simply
your word against his.
3. Use the “call back” technique to secure your agenda.
When confronted, under performers will sometimes try to distract you from the topic at
hand. When an under performer tries to move the discussion off center, simply say, “You
may be right and I still have a problem.” A firm return to the initial “I” statement allows
very little sway in the conversation.
4. The reward/consequence proposal is good for everyone.
Use a reward/consequence proposal when both of the options allow you to achieve your
goal. Present the other person with their two choices and say, “Whatever you decide is
OK with me.” If you’re thinking ahead, you can be sure that whatever option is chosen,
things will work out for everyone.
5. You never get to win this game; you just get to keep playing.
Follow up is important when you use the reward/consequence scenario. Use language
like “Let’s meet again in two weeks” and “I see you’ve made a decision.” Refer to
“progress updates,” not “deadlines.” Above all, never use your persuasive powers for
evil.
––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––
Michael Angelo Caruso is President of the Edison House, a Detroit-based communication company.
He is the author of “5 Cool Ideas for Better Working Living & Feeling,” “Hmmm . . . Little Ideas
With BIG Results” and the audio book, “Dear Michael Angelo – A Father’s Life Lessons To His
Son.” Mr. Caruso delivers 180 presentations per year. Click [here] to request booking information.
Mr. Caruso can be reached at 248/546-9140 and at www.EdisonHouse.com.

bodoh atau malas

Friday, May 13th, 2005

Ada yang bilang, "tidak ada orang yang bodoh, yang ada adalah orang yang malas". Bener nggak sih? Belakangan kok aku rasa yang bener adalah "tidak ada orang yang bodoh, yang ada adalah orang yang tidak kenal dirinya sendiri".

Ada orang-orang yang tidak kenal kemampuannya sendiri. Atau tidak tahu cara menempatkan dirinya. Maksudku, kemampuannya belum sampai pada tempat dia sekarang berpijak.

tunduk

Thursday, May 12th, 2005
tunduk

tunduk pada kuatmu
dalam bayang-bayang surga

kekasih yang kurindu
segera lupakan aku!

tunduk pada kuatmu
pada waktu
yang tak juga
ku ngerti

bukan karenaku
kasih ini ada

tunduk pada kuatmu
jadikan aku tiada

jakarta, des 02

nggak ngerti

Thursday, May 12th, 2005

Aku nggak ngerti deh apa maksudnya… "sama-sama suka tapi egois". Bagian mana dari cerita itu yang menggambarkan demikian? Sebaliknya kamupun nggak ngerti apa yang aku tulis di sini.

Tulisanku terlalu rumit buatmu, tulisanmu terlalu rumit buatku. Ya itulah manusia. Makanya orang bilang "besi menajamkan besi, manusia menajamkan manusia".

balance, angin, dan api

Thursday, May 12th, 2005

Aku ingat, dulu waktu aku sma, ada pepatah yg kubaca, "hubungan rindu terhadap cinta sama seperti angin terhadap api: memadamkan yg kecil, mengobarkan yg besar". Aku rasa konflik apapun juga berperan sama seperti rindu dalam percintaan. Kalau cintanya kecil, konflik pasti memadamkan cinta. Kalau cintanya besar, konflik malah akan membesarkan cinta.

Lalu ada juga prinsip berbalasan seperti cermin. Bila cinta seseorang dibalas, maka makin kuatlah perasaan dia.

Aku sadar sekarang, apa yang terjadi bila dua orang saling cinta satu sama lain, tetapi dengan kadar cinta yg berbeda. Dengan berjalannya waktu, perasaan ini pasti membesar, juga pastilah muncul konflik. Yg satu menjadi berkurang cintanya, yg satu malah jadi makin bertambah.

Jadi yang penting bukannya seberapa besar cinta kita, tapi seberapa seimbang. Tidak penting sekuat apa perasaan ini. Yg penting adalah bagaimana menjaga proses timbal baliknya.

internet

Monday, May 9th, 2005

Perasaan internet sekarang makin maju aja.. makin mudah dipake, makin banyak yang pake, makin cepet, dst, dst. Dulu orang mikirnya dot com, shopping site, terus palingan chatting dengan mirc atau icq. Sekarang udah banyak sekali pilihan.

Weblog pertama kali muncul, kalau aku nggak salah ingat, ada nada-nada skeptis. Masakan nulis harian di tempat publik? Memang sih.. sedikit berbau eksibisionis. Tetapi, memang semua hal berubah kan? Dulu orang nggak pernah pacaran virtual. Belakangan makin banyak, dan akhirnya bukan cuma pacaran aja. Setelah menikah pun chatting masih digunakan.

Tapi rasanya internet ini masih jadi subkultur, maksudku belum berlaku buat semua orang. Masih kalangan tertentu saja yang berada dalam kehidupan seperti ini. Yah, kita lihat lagi saja, 5 atau 10 tahun lagi. Apa semua orang akhirnya punya blog, seperti sekarang ini orang-orang pada punya hp? Hehe… cuma, sudah terbukti, hampir semua orang sekarang punya email. Apalagi konvergensi teknologi juga terbukti sedang maju cepat. Mobile phone udah bisa akses internet, bisa kirim email, udah bisa motret.

Terus, kalau gitu… kalau dilihat dari perspektif yang lebih luas… Gimana yah, hidup di dunia ini 5 atau 10 tahun lagi? Makin banyak informasi yang tersedia? Yang menyebalkan tentu yg sifatnya spam, pushed content, virus, dan kawan-kawannya. Tapi beberapa memang menjanjikan nilai lebih. Mungkin saja antara satu anggota keluarga dan lainnya, bakal punya instant messenger yg jadi asesoris baju? Kayak Ipod gitu.

Yang jelas, relasi antar manusia pasti berubah. Cara bekerja, cara belajar, berinteraksi.. bakal kayak apa yah. Sekarang aja sudah sukar buat ketemu teman. Semua orang makin sibuk. Kalau diberikan fasilitas yang menjawab kebutuhan interaksi secara remote, pasti laku. Sayangnya, ini seperti spiral yang sebetulnya justru makin menjauhkan satu dengan yang lainnya.

Begitu orang biasa ber-email, makin jaranglah orang perlu bertemu. Makin tersedia waktu untuk kesibukan yang lain, jadi ya makin sibuk. Makin perlulah email, makin perlu juga membuat orang lain ikut punya email.

Makin sibuk, makin sibuk, semuanya ini rasa-rasanya didorong oleh satu hal saja: duit. Semua orang udah jadi mesin ekonomi aja nih, termasuk aku :(

tanda darah

Monday, May 9th, 2005

tanda darah

Ia buat semacam tanda darah,
lalu ia lekatkan pada selembar kertas.
Baginya hidup selalu jadi belantara
yang tak pernah lengkap tercatat dalam peta.

Lalu apa artinya sebuah peta?

Toh tiap sudut memudar sebelum
lengkap terbaca.
Dan setiap ruang berpindah
melebur, berpisah, lalu musnah.
Tanpa aturan yang bisa dimengerti akal.

Yang ia butuhkan betul-betul adalah
sebuah tanda darah.
Supaya bila akhir menjelang,
ia tahu apa yang ada di tangan.

solo des 02

sebelum kubuka bukumu

Friday, May 6th, 2005
sebelum kubuka bukumu

telah kutuliskan kata kata itu jauh sebelum kubuka bukumu
persis sama seperti yang kau tulis
aku heran mungkinkah seseorang telah menuliskannya
jauh sebelum dibukanya hati kita.

– jkt jun 03 –

ngeblog terus

Friday, May 6th, 2005

Heran, hari ini kok banyak maen-maen blog.. Bukannya nggak kerja, multi tasking tetap jalan, tapi kayaknya 30% kerja, 60% maen-maen, 10% overhead buat switching between tasks :-)

Utak-atik blog sendiri, liat blog orang lain, baca puisi orang lain, buka lagi puisi diri sendiri. Jadinya banyak melancholic activities nih :-)

Mungkin sedang pada masa mencari lagi jati diri. Manusia kayaknya seperti itu, apalagi para melankolis - introvert. Ada waktu ‘recycle’, berhenti dari segala macam aktivitas, penginnya refleksi ke dalam lagi. Siapa sih sebetulnya aku ini, mau ke mana, sudah sampai di mana, apa yang bernilai di mataku.

Ada yang konyol ada yang serius :-) Masak aku dibilang driven by sexual motives? Apa memang begitu? Memang lagi pengin berkeluarga. Pengin tapi belum jelas benar rencana ke sana. Mesti dapat penghasilan yang cukup, terus maunya punya mobil, cari pacar yang cantik, lalu siapkan tabungan buat beli rumah. Well, it’s been one of my dreams these recent years. Maybe I have to admit that’s the central theme.

hehe… some of my friends, especially my co-workers, will be shocked reading this blog (it is proven well earlier today :P). Some of them saw me as strict, serious, pure rationalist man. Hey… salah tuh, aku ini multi dimensional. Kebetulan saja kita bertemu saat aku ada pada dimensi yang rasional. Suatu waktu, semoga saja, kita bisa bertemu pada dimensi yang tidak rasional. Tahu yang aku maksud? Hidup dan cinta itu sungguh tidak rasional :-)

Btw, thanks for those who has visited this blog. You’re my friends.. some of you have passed bad and good times with me. Cheers!

blogs to inkblot test

Thursday, May 5th, 2005

Hari ini jalan-jalan ke blognya temen.. dari situ ke blog yg laen… terus.. nemuin http://web.tickle.com/tests/inkblot/ … eh… hasilnya….

Yusuf, your subconscious mind is driven most by Sexuality

Sexuality_s

The world is a sexy place for you — your erotic self leads the way. Whether this is because you’re presently in a great physical relationship or simply want one, you are much more aware of the sexual undertones in situations than most people.

This heightened focus, coupled with your vivid imagination, can make you more likely to have original — at times risqué — interpretations of things that other people might see as innocuous.

Your subconscious is telling you that you are very much alive, and have a great deal of passion to bring to life.